Pages

Friday, 7 October 2011

MUNGKINKAH KULIAH SAMBIL BEKERJA ??

KETIKA dunia kerja tidak lagi hanya menuntut kemampuan intelektual tapi juga profesionalitas yang dibuktikan dengan pengalaman, maka sebagai mahasiswa --yang nantinya akan memasuki dunia kerja-- sudah semestinya jika mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi fenomena tersebut.

Kuliah sambil kerja, apakah mungkin? Jadwal kuliah yang padat ditambah dengan tugas-tugas kuliah yang seabreg, membuat mahasiswa berpikir seribu kali untuk kuliah sambil bekerja, jika tidak ingin kuliahnya terganggu.

Bagi mahasiswa yang bekerja di instansi pemerintah mungkin lebih mudah mengatur waktunya karena jam kerja yang tetap dan lebih fleksibel. Tetapi bagi mahasiswa yag bekerja pada instansi swasta, ketatnya jam kerja dan adanya jam kerja tambahan atau lembur menjadi kendala utama.

Jangankan mendapat dispensasi, bahkan ada banyak perusahaan yang tidak mau karyawannya mengambil kuliah karena khawatir akan mengganggu kerjanya, yang berujung pada kerugian perusahaan. Untuk menunjang karier, ada sebagian orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan kuliah sambil bekerja.

Kendala lain yaitu tidak berharganya nilai sebuah ijazah. Jangankan hanya mengandalkan ijazah SMA, pencari kerja dengan ijazah strata satu (S-1) pun saat ini sangat sulit mendapat pekerjaan. Lulusan SMA paling hanya menduduki posisi sales promotion girls (SPG), waitress, kasir, atau posisi administrasi umum dan supervisor bagi orang-orang yang sangat beruntung. Namun apakah posisi bisa memberikan pengalaman bagi mahasiswa (sebagai calon tenaga kerja) untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan jurusan yang diambil?

Jika tidak, jadi untuk apa berusah payah membagi padatnya waktu kuliah dengan waktu untuk bekerja? Ternyata dunia kerja tidak hanya menuntut pengalaman yang sesuai dengan bidang yang akan dimasukinya, tapi minimal calon pekerja sudah tahu apa dan seperti apa dunia kerja itu. Bagi mereka tentunya ketika dia memasuki dunia kerja yang sesungguhnya, akan lebih mudah beradaptasi.

Kenapa seorang pekerja harus beradaptasi di lingkungan kerja? Karena lingkungan kerja itu seperti halnya lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan kuliah, dan lingkungan masyarakat, penuh dengan hal baru dan kompleks yang mungkin tidak diduga sebelumnya oleh para calon pekerja. Dalam lingkungan kerja sudah pasti seorang pekerja akan menemui aturan dan kebijakan perusahaan tempat ia bekerja yang kadang tidak sesuai dengan keinginannya.

Selain itu dalam dunia kerja ada tingkatan posisi di mana seorang pekerja harus melakukan tugas dari atasannya yang kadang sangat memberatkan. Belum lagi adanya kesenjangan antarpekerja dan adanya persaingan kerja yang tidak sehat. Tapi semua itu adalah permasalahan yang siap atau tidak siap harus dihadapi oleh seorang calon pekerja ketika dia memasuki dunia kerja, karena kapan pun dan di mana pun, ada kemungkinan hal tersebut akan dialami.

Di samping untuk mencari pengalaman, ada hal lain yang mendorong seseorang melakukan kuliah sambil kerja yaitu mencari uang untuk membiayai kuliah atau sekadar mencari tambahan biaya kuliah. Ada banyak alasan kenapa seorang mahasiswa harus mencari uang sendiri.

Pertama, keadaan ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan utuk mengalokasikan dananya guna membiayai kuliah anak-anaknya. Seperti kita tahu setelah krisis ekonomi banyak orang kehilangan pekerjaan atau menurunnya daya beli masyarakat. Jangankan untuk membiayai kuliah anaknya, untuk makan sekeluarga saja terasa sangat sulit.

Kedua, ada sebagian orang tua yang ingin menanamkan jiwa kemandirian pada anaknya sejak dini atau setelah merasa bahwa anaknya sudah cukup dewasa. Salah satu cara yang banyak dilakukan para orang tua untuk menanamkan jiwa kemandirian pada sang anak adalah dengan menyarankan anaknya untuk bekerja dan membiayai kuliahnya sendiri.

Ketiga, karena keinginan anak itu sendiri untuk belajar mandiri atau paling tidak mengurangi beban yang harus ditanggung orang tuanya.

Sehubungan dengan adanya fenomena itu, saat ini sudah ada lembaga pendidikan yang menyediakan suatu sistem perkuliahan yang dapat mendukung bagi mahasiswanya yang ingin kuliah sambil bekerja, yakni dengan menyediakan kelas-kelas khusus disediakan dengan jam kerja yang ada. Kelas-kelas khusus tersebut adalah kelas malam atau karyawan yang diperuntukkan bagi mereka yang bekerja pagi, kelas weekend yang dapat dimanfaatkan oleh karyawan dengan lima hari kerja, kelas shift untuk yang bekerja dengan sistem pembagian waktu kerja.

Pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja lulusan SMA kebanyakan pekerjaan dengan jam kerja shift. Keuntungan kelas shift, yaitu dapat mengikuti jam perkuliahan dari kelas mana pun. Ketika mereka bekerja pada shift pagi (8.00-16.00 WIB) tidak timbul permasalahan (berupa benturan jam kerja dengan jam kuliah) karena sepulang kerja bisa mengikuti perkuliahan pada kelas karyawan (17.00-21.00 WIB).

Permasalahan muncul ketika mereka berada pada shift siang (14.00-22.00 WIB). Perkuliahan yang bisa diikuti yaitu kelas reguler (8.00-17.00 WIB), namun mereka terpaksa harus meninggalkan kelas maksimal pukul 13.30 WIB meski masih ada perkuliahan yang diadakan di atas jam tersebut sehingga tidak menutup kemungknian ada mata kuliah tertentu yang hanya dapat diikuti dua minggu sekali.

Meski sudah diadakan kelas shift, entah karena alasan kurang ruangan, kurang dosen atau karena kurang pengetahuan tentang jam kerja shift maka kelas shift belum sepenuhnya menjadi solusi yang terbaik.

Seharusnya hal ini menjadi pertimbangan bagi lembaga pendidikan yang menyediakan sistem perkuliahan kelas shift dalam penyusunan jadwal kuliah, sehingga memudahkan bagi mahasiswanya yang bekerja dengan sistem kerja shift.

Hal lain yang menjadi kendala yaitu tidak mudah membagi waktu antara kuliah, kerja, istirahat, dan urusan-urusan lain. Hanya sedikit orang yang dapat me-manage waktunya dengan sangat baik sehingga dia sukses dalam kuliah dan karier. Tapi di samping sedikit orang hebat itu, banyak juga yang merasa kesulitan membagi waktunya sehingga harus memilih tetap melanjutkan kuliah atau mempertahankan pekerjaannya.

Dari urian di atas, kuliah sambil kerja (terutama sistem kerja shift) ternyata tidak mudah dilakukan jika tidak didukung oleh jadwal kuliah yang dirancang sesuai dengan jam kerja. Di samping itu juga harus ada motivasi yang kuat dari dalam diri sendiri. ***(Hfz)

(Dikutip dari Berbagai Sumber)

Created By : Abdul Hafidz AR

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP UR

Berdomisili di Pekanbaru

kritik dan saran bisa disampaikan ke :

bmalay48@yahoo.com

081318424982

PANDANGAN TERHADAP MAHASISWA APATIS

Dalam dunia kemahasiswaan, kita mengenal adanya istilah “mahasiswa apatis”. Memang belum ada definisi yang jelas, ketat, dan menyeluruh tentang siapa yang pantas disebut “mahasiswa apatis” ini, tapi dari berbagai tulisan teman-teman mahasiswa, untuk sementara kita bisa menyebut bahwa “mahasiswa apatis” adalah orang yang tidak mengikuti organisasi -khusunya organisasi politik. Lebih luas lagi, “mahasiswa apatis” adalah orang yang tidak mau bersinggungan dengan politik kampus.

Benarkah mahasiswa apatis itu benar-benar “apatis”? Apakah mahasiswa apatis itu benar-benar sebegitu buruknya?

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sedari dulu menggelayut di kepala saya. Saya belum mampu menemukan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan itu. Pertama, karena definisi dari mahasiswa apatis itu sendiri belum jelas. Definisi di atas pun saya tentukan secara subjektif. Kedua, karena mahasiswa yang biasa kita sebut dengan istilah “apatis” itu pun belum banyak yang berbicara tentang alasan “keapatisan” mereka (ini jika kita memakai definisi “mahasiswa apatis” adalah mahasiswa yang tidak bersinggungan dengan organisasi kampus). Di artikel ini, saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa seseorang menjadi apatis.

1. ekonomi. Saya mempunyai seorang teman. Dia datang seorang diri dari rumahnya di kampung halaman nun jauh disana (hehehehe) . Di UNRI ini, dia kuliah dengan biayanya sendiri, bekerja membanting tulang. “Rasanya saya mau ikut organisasi, tapi tak punya waktu nih masalahnya,” ungkapnya beberapa kali padaku. Dia ingin, tetapi tidak bisa. Dan dia memutuskan untuk menjadi apatis karena keadaan ekonomi.

2. cara berjuang yang berbeda. Para mahasiswa organisatoris selalu mengatakan bahwa mereka berjuang demi rakyat, atau setidaknya mencoba berkontribusi. Sejatinya, begitu pula lah niat beberapa mahasiswa apatis yang lain. Mereka mencoba berkontribusi, tetapi bukan dengan jalan masuk BEM atau organisasi lainnya. Mereka mempunyai pemikiran sendiri tentang kontribusi itu. Mereka meyakininya dan menjalaninya. Saya akan menyebutkan beberapa bidang:

a. Entrepreneurship. Ada seorang teman saya di salah satu fakultas di UNRI mengeluh. Katanya, dia disindir sebagai orang yang apatis. Padahal, teman saya ini selalu bilang kepada saya bahwa di jalan entrepreneurship lah dia mengabdi kepada bangsa ini. Dengan bangga dia mengatakan pada saya bahwa dia telah mempekerjakan beberapa orang. Lalu, dia bertanya, “apa yang aku perbuat ni berguna untuk mengatasi pengangguran. Lalu, hal konkret apa yang sudah dilakukan mereka yang mengaku tidak apatis?”.

b. Organisasi ekstra kampus. Seorang teman mengatakan bahwa salah satu alasannya apatis (di kampus) dan memilih organisasi ekstra kampus adalah karena dia memang tidak tertarik ke arah internal kampus. Eksternal kampus menjanjikan hal yang lebih banyak, katanya. Jaringan, pembelajaran yang lebih konkret, profesionalisme, kesimpelan, dan banyak hal lain.

c. Kepenulisan. Bisa jadi ada mahasiswa yang memilih jalur murni kepenulisan dan apatis terhadap hal lain. Dia memilih menginspirasi orang lewat tulisannya dan dengan sadar ia memilih apatis. “Gw cuma pengen fokus aja di bidang gw..”, katanya.

d. Entertainment. Teman saya ada yang meniti karirnya di dunia hiburan dari sekarang (saat kuliah) dan memilih apatis dari hal lainnya. Di lain sisi, dia sangat bersemangat mengejar mimpinya di dunia hiburan. Dia ikut les musik ini-itu, manggung di sana-sini, dan hal lain yang berhubungan dengan bidangnya.

3. karena tidak tahu. Seringkali kita tidak mau melakukan sesuatu karena tidak tahu manfaatnya. Kita apatis karena kita tidak tahu apa manfaatnya kalau kita menajdi aktivis. Kita menganggap itu perbuatan yang sia-sia, karena itulah kita memilih menjadi apatis. Untuk orang yang satu ini, kita hanya perlu mendidik mereka dan berdialog saja.

4. malas. Ketiga poin alasan di atas saya masukkan kategori masih lumayan baik. Namun, untuk alasan yang keempat ini, saya berpendapat berbeda. Malas, egois, tidak peduli, semau gue, apa urusannya sama gue, yang penting gue seneng, dan sederet alasan lain itu adalah virus mematikan bagi kemanusiaan dan daya kritis mahasiswa.

Jadi, menurut saya, keapatisan dari seorang mahasiswa janganlah langsung dicap buruk begitu saja. Saya yakin ada alasan-alasan yang melatarbelakanginya mengambil keputusan itu. Latar belakang itulah yang harus kita cari dan selesaikan. HIDUP MAHASISWA .......!!!!!

Created By : Abdul Hafidz AR

Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP UR

Berdomisili di Pekanbaru

kritik dan saran bisa disampaikan ke :

bmalay48@yahoo.com

Friday, 25 June 2010

Blog Budak Selat

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pada hari sabtu tanggal 26 Juni 2010 bertepatan dengan 12 Rajab 1431 H, Blog ini dinyatakan resmi dibuka, kepade kawan2 yang punye masukan sangat diharapkan untuk kemajuan blog ini untuk mase yang akan datang.

Labels

ABDUL HAFIDZ, AR | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all